Assalamu’alaikum. Hai.. Perkenalkan. Namaku Dhika Jati Trajuningtyas, biasa dipanggil Dhika. Aku lahir di Yogyakarta, 12 Agustus 1997. Aku muncul setelah kedua orangtuaku menikah satu tahun. Aku tinggal di Wirosaban UH 6/646 Gg. Wiro Jati. Agak aneh memang nama gangnya mirip dengan namaku. Maklum, bapakku yang memasangnya. Semua gang ada kaitannya dengan penghuninya.
Aku ditakdirkan menjadi anak pertama sekaligus anak ke dua, alias anak tunggal. Dulu saat kelas 1 SD, hampir saja aku mau punya adik, tapi sayang seribu sayang. Ibuku keguguran gara-gara kecapekan rewang di dua empat yang jauh tempatnya. Pertama rewang di nikahan tetangga. Kedua di nikahan kakak sepupu. Tapi, tak usah disesali. Toh katanya, bayi yang meninggal bisa menolong orangtuanya. Katanya para bayi takkan tega melihat orangtuanya masuk neraka. Wallahu a’lam bishshawab. Aku mempunyai hobi menyanyi dan membaca. Sedikit ku ceritakan bagaimana aku bisa hobi membaca. Eng ing eng... Awalnya, saat masih SD aku suka membaca majalah Bobo. Aku setiap hari mengumpulkan uang untuk beli majalah Bobo dari uang saku. Kadang juga minta dibelikan sama orangtua. Dulu zamannya masih SD, tulisanku kecil-kecil dan jelek. Bisa dibayangkan, kaya semut berjejer.
Lalu, Ibuku punya ide. Ibu menyuruhku nulis latin di buku yang khusus latin yang gede-gede. Jangan ngirit-ngirit. Nanti kalau habis dibelikan ibu lagi. Awalnya aku malas, cuma nulis beberapa kata saja tidak sampai sehalaman penuh. Tapi, setelah itu ibu memberiku reward. Kalau tulisannya bagus dan gede-gede nanti perhalaman penuh nanti dikasih uang Rp 500. Aku masih ingat bener itu. Nah, gara-gara ini aku jadi punya ide. Kalau uang jajanku kurang buat beli majalah Bobo, aku nulis yang buesar-buesar dan lumayan bagus. Terus, nanti dikumpulin berapa halaman. Terus di kasih uang deh. Pernah dulu sampai Rp 10.000. senang banget aku. Sejak saat itu, aku bisa dapat dua keuntungan. Pertama, tulisanku jadi lumayan bagus. Kedua, aku jadi punya uang banyak buat beli majalah. Aku dibiasakan untuk tidak jajanan.
Cara ibuku mendidikku waktu kecil kaya orang China. Padahal kedua orangtuaku sama sekali tidak ada yang keturunan China. Hanya diambil yang baik-baik saja. Dulu, setiap pagi hari diajak pergi ke sawah. Aku diperlihatkan sama ibu gimana aku kok bisa makan nasi. Ibuku menjelaskan, pertama petani hatus menanam benih. Lalu ditandur. Kita masih harus nunggu beberapa bulan hanya untuk memakan ssesuap nasi. Jika padinya sudah menguning, itu tandanya sudah mulai siap dipanen.
Kalau siang hari, dulu aku diajak ibu ke gilingan. Gilingan merupakan tempat untuk menggiling padi agar menjadi gabah. Dulu di rumah ada beberapa ayam. Setelah kami melihat proses penggilingan , biasanya kami membeli katul untuk pakan ayam. Aku ikut mencampurkan antara katul dengan nasi. Setelah itu, ibu bercerita padaku kembali. Katanya, untuk makan nasi, bapak harus beli beras dulu. Lalu, nanti dimasak sama ibu. Baru nanti dimakan sku. Kata ibu, jangan pernah menyepelekan nasi walau hanya sebutir saja. Karena, nasi itu sangat berharga. Butuh berbulan-bulan untuk menghasilkannya hingga menjadi beras. Aku sekolah TK pernah pindah sekali. TK pertamaku di TK Mardi Putra. Hari-hari berjalan dengan lancar. Sampai suatu ketika, saat baris sebelum masuk kelas ada sedikit masalah dengan temanku. Biasa, masalah sepele anakanak. Yaitu, rebutan memimpin doa. Karena lama-kelamaan berefek negatif, makanya ibuku memindahkanku ke TK yang bertaraf agama. Lalu, aku masuk di TK ABA Karang Kajen. Disana aku punya teman yang baik dan pintar. Lulus dari TK, aku masuk ke SD Muhammadiyah Karang Kajen II. Aku di masukin ke situ karena katanya biar pondasinya kuat. Dikarenakan juga orangtuaku tidak terlalu paham tentang agama. Maklum, ibuku muallaf dan bapakku sebenarnya Islam tapi sering ke gereja untuk mimpin yang nyanyi-nyayi itu yang entah apalah itu namanya. Alhasil, dari keluarga bapak, dari 5 bersaudara hanya 2 orang saja yang muslim. Hanya bapakku dan budheku. Omku dulunya Islam, tapi murtad karena beberapa hal. Aku lulus dengan nilai yang pas-pasan. 24,35 dari 3 mapel yang diujikan.
Aku melanjutkan pendidikan ke SMP N 15 YK dengan urutan 58 dari 334 siswa waktu itu. Aku masih ingat betul itu. Selama SMP, aku banyak mengikuti kegiatan : rohis, PMR, tonti, basket, paduan suara dan ansamble. Tapi, itu semua tidak kulakukan semua selama 1 tahun, tapi berjenjang. Saat kelas 7, aku ikut basket. Lucunya, dari sekian banyak orang hanya aku yang pakai kerudung sendirian. Bagi anak negeri itu mungkin lumayan aneh. Tapi, aku pernah dengar SMP negeri lain malah ada yang mewajibkan untuk pakai kerudung. Akhirnya, aku juga keluar dari basket gara-gara kecewa tidak dimasukkan ke tim inti. Akhirnya aku ikut yang lain.
Ketika kelas 8 pelajaran Bahasa Jawa, kami diterangkan oleh Pak Maryoto tentang tandur. Kami diajak berfikir jauh ke depan. Mencoba membayangkan dampak. Sekarang ini, banyak lahan yang disulap menjadi bangunan apa pun itu. Lahan pertanian semakin sempit. Banyak bahan pertanian diimport dari luar negeri. Indonesia biasanya mengimport orang bukan barang. Jika kita teliti, sebenarnya produk pertanian lokal lebih berkualitas dibandingkan dengan barang import itu. Misalnya wortel. Wortel dari mana aku lupa, memang sih wortelnya besar-besar dan menarik perhatian. Tapi, baru sebentar saja sudah tidak bagus lagi keadaannya. Nah, kata beliau, coba kami jadi sarjana pertanian atau insinyur pertanian. Pasti nanti 10 tahun lagi banyak yang nyari. Sekarang aku sudah tau cita-cita dan impian besarku. Yaitu gimana caranya membuat teknologi baru. Dengan lahan indonesia yang sempit bisa menghasilkan hasil bumi dengan melimpah dan tentunya berkualiatas.
Setelah kelas 9, semua kegiatanku vakum. Aku fokus ke UN. Selama TPM, nilaiku tidak ada yang memuaskan. Setiap hari makananku hanya soal-soal. Sampai muntah soal. Sampai hafal apa aja yang keluar. Sampai nomer-nomernya pun aku ingat. Ibaratnya, nggarap soal sambil merem. Gaya ya? Hahaha. Di hari pengumuman UN saat melihat nilaiku agak kecewa. Tertulis : 33,35. Kok cuma segini? Padahal aku yakin betul nilaiku bisa 9 semua kecuali bahasa Inggris agak ragu kalau 9. Yah sudahlah, syukuri saja. RencanaNya pasti yang terbaik. Pupus sudah harapanku buat masuk ke SMA N 1 YK. Akhirnya, aku pengen masuk SMA N 7 YK. Tapi buat jaga-jaga aku daftar ke MAN YK 1. Aku daftar sudah kurang 1 jam lagi pendaftaran ditutup. Aku dapat nomor 200-an atau 300-an aku agak lupa. Aku bergumam, berarti sainganku banyak dong? Waduh. Saat tes masuk, aku kenalan dengan pendaftar yang lain. Sainganku anak pondok semua. Kebanyakan hafal Qur’an beberapa juz. Sedangkan aku? Lulusan anak negeri yang gak ada kaya begituan. Hafalan pas SD pun sudah banyak yang lupa. Tapi, kebanyakan nem mereka di bawahku. Aku tetap optmis.
Begitu namaku dipanggil, dadaku serasa lomba drum band. Badanku juga dingin. Nervous tingkat dewa. Gila. Pas ditanya hafal berapa juz aku jawab apa saudara-saudara? Aku jawab setengah juz. Gokil. Setengah juz itu maksudnya hafalan surat pendek yang masih ku ingat. Terus diuji buat murotal, katanya kalau bisa murotal bisa buat nambah nilai. Akhirnya aku murotal sebisaku meski suaranya gak merdu dan entah pakai lagu murotal apa itu aku kurang paham. Terus, pas ditanya “manteb masuk sini mbak?” dengan muka yang sok meyakinkan aku jawab “manteb banget bu!” Tes tak terasa begitu cepat. Hanya sekitar 10-15 menit. Yang lain ada yang lama banget. Aku tetap optimis bisa masuk sini. Ternyata, ucapan memang adalah sebuah untaian doa. Aku diterima! Senang banget.
Pas ditanggal batas terakhir pengumpulan SKHUN, hari tu juga ada verifikasi buat masuk SMA N 7. Bingung setengah mati. Kalau ke SMA N 7 aku yakin setengah yakin dah. Karena nilaiku sangat mepet. Kalau masuk ke MAN YK 1, nanti gimana ya suasananya? Karena kasus yang kemarin anak MAN tidak bias masuk UGM atau PTN. Bingung dibuatnya. Akhirnya setelah 1 jam aku duduk termenung di ruang piket dengan melihat orang hilir mudik. Akhirnya aku mantab masuk MAN. Bismillah.
Setelah menyerahkan SKHUN, aku dan bapak masuk ke aula atas. Begitu masuk aula, aku langsung ngomong dalam hati. Aku harus masuk IPA gimana pun caranya. Karena untuk bisa mewujudkan cita-citaku harus dengan cara masuk IPA dulu.
Aku juga ikut OSN biologi. Dengan begitu, aku bisa tau caranya mewujudkan impianku. Awalnya aku cuma sekali saja ikut pembinaan OSN. Tapi, waktu kemarin masa-masa classmeeting ada yang buat OSN. Katanya semua siswa wajib mengikuti satu. Akhirnya, setelah selama 1 semester aku vakum dari OSN, aku ingin masuk alagi. Tapi, aku tetap nyantai. Tanpa belajar aku tetap ikut ujiannya. Dan atas izinNya, aku bisa masuk rangking di OSN! Sungguh luar biasa. Subhanallah banget. Mulai saat itu, aku bertekad akan bersungguh-sungguh untuk menggeluti di bidang OSN Biologi ini. Semoga aku bias ikut tim olimpiade dan bisa memenangkan lomba olimpiade. Aamiin
Aku ingin kuliah di IPB (Institut Pertanian Bogor). Disana tentang pertanian pasti sudah ahlinya. Katanya, disana juga tempatnya orang-orang besar, hebat dan tentunya pintar. Semoga aku diijinkan untuk kuliah disana. Karena, ini akan menjadi pengalaman pertamaku menuntut ilmu di luar kota asalku. Inilah diriku.
doakan ya, kawan... :') oke
Komentar